Pendidikan untuk Pengabdian

Album Cerpen

PESTA RAJE SEARI

Oleh: Marmiyanah

Sabtu pagi, Bik Yam telah menyiapkan suguhan di bawah teratak rumahnya. Berbagai penganan, kue-kue tradisional, ciri khas Dusun Pegagan, telah disajikan di atas meja panjang untuk disuguhkan bagi para tetangga dan tamu yang datang. Tampak dalam sebuah pinggan besar kue lepat ketan, samballingkung, dan kerupuk. Tidak lupa pula dua cerek besar berisi masing-masing kopi hangat dan teh manis turut melengkapi suguhan pagi ini. Sisa-sisa hujan semalam masih membekas di halaman rumah, agak becek, dengan genangan air kecoklatan di tanah-tanah berlubang. Beginilah keadaan dusun yang terletak di tepi aliran Sungai Ogan bila musim hujan mulai datang. Air Sungai Ogan  pun turut meluap, mengalir ke muaranya, Sungai Musi.  Biasanya, disusul dengan seluang mudik, musim ikan seluang. Hal ini pertanda rezeki bagi para penduduk, ya mereka dapat menangkul ikan seluang dengan gampang.

Satu per satu para tamu dan tetangga berdatangan.  Mereka sengaja datang dan diundang pada hari Sabtu ini oleh sang punya hajat untuk diminta tenaganya  bemasak untuk acara selamatan pernikahan, adik Bik Yam, Dalimah dengan Junaidi, pemuda sedusunnya, serta selamatan sunatan anak Bik Yam, Hamid, esok.

Dalimah, anak bungsu dari tujuh bersaudara. Sejak  es de, Dalimah telah ditinggal mati oleh emak dan bapaknya. Tinggallah Dalimah dengan Bik Yam, Ayuk perempuan tertuanya. Sementara saudara-saudara Dalimah yang lain, yang juga adik Bik Yam, ada yang tinggal di lain dusun. Ada pula merantau ke kota, dan ada pula dua orang adik laki-lakinya, Mang Zul dan Mang Rafik tinggal di Dusun Pegagan, tetapi kehidupan mereka sangat miskin. Mereka hanyalah petani penggarap sawah yang disewa dari tuan sawah. Tentu saja hasilnya, hanya cukup untuk keluarga mereka saja.

Lain halnya dengan Bik Yam, meskipun tidak hidup mewah, suami Bik Yam, Mang Tolib, seorang pedagang yang cukup berhasil dan mempunyai sawah yang luas. Mang Tolib membuka toko kelontong dan warung model di pasar kecamatan. Aku dan Rosma pun pernah diajak Mang Tolib untuk mampir makan model di warungnya ketika kami belanja keperluan dapur. Kami tak mampu menolak ajakannya, kami pun mencoba kelezatan model di warung Mang Tolib. Pantas saja, pengunjungnya banyak, modelnya lezat dan pemiliknya pun ramah.

Esok acara akan dimulai, segala persiapan dilakukan pada hari ini. Semua tetangga dan warga sekitar tampak gembira, menyambut keramaian di dusun ini.

Aku pun turut diundang hari ini. Dengan senang hati aku dan teman-teman kelompok Kuliah Kerja Nyata datang ke rumah Bik Yam.

“Cihuii…bakal makan nasi pindang lagi kita, hmm sedeaaap,” seru Rahmat temanku yang gembul, sambil menirukan logat penduduk dusun.

“Mat, kau harus memberi lauk lebih banyak, ya!” tegur Amin, ketua kelompok kami. Yang ditegur hanya cengar cengir saja, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Biar bagaimana pun kami turut menghargai sikap penduduk dusun yang sangat mengharapkan kami, mahasiswa Ka Ka En, untuk berpartisipasi dalam acara ini. Ada kebanggaan tersendiri dapat berpartisipasi dengan penduduk desa ini.

Lagi pula kedua calon pengantin ini cukup akrab dengan kami, terutama Dalimah yang selalu bertandang ke posko kami mengantarkan penganan buatannya kepada  kami hampir setiap hari.

“Selamat bergabung dengan penduduk dusun ini kami ucapkan kepada adik-adik Kakaen dan Ayuk en” begitulah ucapan penduduk ini kepada kami, kakaen untuk mahasiswa dan ayuk en untuk mahasiswi ketika kami kali pertama tiba di dusun ini. Kami cuma tersenyum geli.

Rencana pernikahan Dalimah dan Jun ini, sebenarnya sudah lama terdengar oleh penduduk dusun. Terutama pada hari kalangan, Selasa dan Kamis, berita ini dengan mudah tersiar, dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, di dusun ini jarang sekali membuat surat undangan untuk warganya, cukup secara lisan disampaikan oleh seorang utusan, wakil sang empunya hajat. Surat undangan dibuat biasanya hanya untuk tamu jauh, di lain dusun. Undangan untuk kami pun disampaikan secara lisan oleh Mang Kosim, tetangga Bik Yam.

“Kakaen dan Ayuk en, aku  ini utusan dari keluarga Bik Yam, katanya seluruh Kakaen dan Ayuk en jangan dak datang pada hari ngenjuk minum malam ini. Hari bemasak dan pesta, Sabtu dan Ahad dua pekan nanti, yo,” demikian pesan yang disampaikan Mang Kosim di posko kami petang itu.

Malam ngenjuk minum, yaitu membentuk panitia pernikahan Limah dan Jun, serta selamatan sunatan Hamid, tak lupa kami pun datang. Udin, sang ketua pemuda dusun ini bersama  bujang gadis dusun menjemput kami, terutama  kami yang perempuan. Aku dan teman KKN-ku Rosma, dengan senang hati mengikuti bujang gadis itu ke tempat kenduri. Malam itu, bulan purnama tampak merona, lampu listrik dari rumah-rumah penduduk cukup menjadi penunjuk jalan. Aku, Rosma, dan gadis-gadis dusun berjalan mengiringi bujang-bujang dusun di jalan setapak kampung, yang di sisi-sisinya ditumbuhi rumput dan semak. Kami berjalan dengan hati-hati, maklumlah jalan agak licin bekas hujan sore tadi.

“Din, jangan cepat-cepat jalannya, kasihan gadis-gadis di belakang, nih!” teriak salah seorang pemuda di belakang kami, sembari menerangi jalan dengan lampu petromaks yang dipegangnya. Pemuda di dusun ini sengaja membawa lampu petromaks sebagai penerang jalan tampaknya hal itu sudah membudaya, meskipun tenaga listrik sudah masuk dusun.

“Ya, hati-hati, jalan licin!” teriak Udin beberapa meter di depan kami.

Tak lama kemudian sampailah kami di rumah Bik Yam. Para tamu undangan sudah ramai, terutama bapak-bapak di ruang tengah sudah duduk-duduk di lantai rumah beralas tikar purun, sedangkan kaum perempuan duduk di ruang belakang dekat dapur. Aku, Rosma, dan beberapa gadis dusun menyiapkan hidangan ringan burgo di pinggan-pinggan kecil di dapur, sedangkan sebagian bujang dusun duduk di kursi bambu yang disediakan di halaman rumah .

Malam itu pula akan disusun rencana acara, tuan rumah meminta tolong kepada semua penduduk  dusun untuk menyukseskan hajatan ini. Berdasarkan sepakat para undangan panitia tersebut, acara akan berlangsung pada hari Ahad dua minggu yang akan datang. Jumat dan Sabtunya sebelumnya merupakan acara ngukus dan bemasak. Aku dan Rosma ditunjuk menjadi penerima tamu  dan pendamping calon pengantin, baik pada hari Sabtu maupun Ahad.

Jumat kemarin, sengaja aku menjenguk Limah sekedar ingin tahu apa yang sedang disiapkannya. Di luar dan dalam rumah Bik Yam sudah banyak kegiatan dilakukan para tamu, terutama tetangga dekat.  Hari itu mereka ngukus, yakni membuat penganan dari ketan  dan kue-kue tradisional untuk sarapan pagi bemasak Sabtu. Sejumlah pemuda dusun menyiapkan kayu bakar, memasak air minum pada dandang besar, dan memasang tarup di depan rumah . Tampak asap di mana-mana mengepul ke udara dari api kayu bakar di samping rumah.

Para ibu menyiapkan bumbu-bumbu untuk bemasak esoknya, mengupas kelapa, mengupas bawang,  mengukus ketan, dan membuat   sambalingkung, dan lain-lain. Aku dan Rosma turut pula berkumpul mengupas bawang  merah dan bawang putih bersama para ibu. Duduk di sampingku, Wak Not, wanita paruh baya itu mengupas bawang merah sambil mulutnya mengunyah-ngunyah sirih. Gigi dan bibirnya berwarna hitam kemerah-merahan karena air sirih.

“Nak berdua, kalau ngupas bawang, di ujung lading ditusukkan bawang abang, supaya mata kita tidak pedih,” Wak Not menunjukkan ujung ladingnya yang telah ditusuk dengan sebutir bawang merah. Pantas saja, semua ibu-ibu ini menusukkan sebutir bawang merah di ujung pisaunya.

“Begini, Wak?” tanya Rosma . Wak Not mengangguk-angguk. Aku dan Rosma pun mengikuti  saran Wak Not tersebut. Entah kebetulan saja entah tidak, benar saja mataku tidak perih oleh bawang merah itu.

 

Aku sengaja menuju kamar yang disiapkan untuk raje seari, sang pengantin. Hiasan kamar sebagian hampir selesai, kelambu berwarna merah muda senada dengan seprai ranjang yang juga berwarna merah muda di tengah-tengah kamar yang berukuran 3 x 3 meter itu. Di dinding kamar ditempel bunga-bunga plastik yang di tengahnya tergantung bingkai foto calon pengantin. Harum tercium olehku dari kuntum bunga melati yang direndam dalam sebuah mangkuk kecil terletak di sudut kamar ini.

“Limah, inaimu sudah kau siapkan belum, kapan akan kau pakai?” tanyaku sambil memandang  kuku kaki dan tangan Limah.

“Ini, Yuk, daunnya belum ditumbuk. Aku baru akan menyuruh Hasnah menumbuknya.”

“Kalau begitu, aku saja yang menumbuknya, Hasnah lagi sibuk di dapur. Apa saja yang diperlukan, Lim?’

“Daun inai itu ditumbuk di lumpang batu, lalu dicampur dengan beberapa butir nasi, dan air asam jawa,”

“Itu saja kan, gampang,”

“Oh, ya jangan lupa diberi seekor semut merah,”

“Apa? Semut merah, serius nih?” aku kaget.

“Iya, kata orang tua di sini, semut merah cukup seekor saja, supaya inainya lebih merah, Yuk,”

“Oooh…,” aku mengangguk-angguk sambil tertawa geli.

Singkat cerita, segala persyaratan perinaian itu aku penuhi termasuk mengorbankan seekor semut merah, yang sengaja kucari di bawah pohon rambutan tadi. Semut merah itu kutumbuk dengan anak batu lumpang, meskipun aku kasihan dengan nasib naas sang semut. Kuku kaki dan tangan Limah langsung kutempel, beserta telapak tangan dan sisi telapak kaki kiri dan kanannya.

Sabtu bemasak ini, penduduk dusun lebih ramai datang ke rumah Bik Yam. Aku pun hari ini dengan setia mendampingi Limah dan Jun, menerima tamu.

“Jun, Limah, itu ada tamu yang datang, cepat dicatat bawaannya,” ujarku pada kedua calon pengantin. Jun dan Limah yang sedari tadi telah duduk di muka pintu tarup dengan sigap mencatat bawaan para tamu. Jun mencatat di buku tulis dan Limah menyebutkan. Kedua calon pengantin ini tampak gagah dan cantik. Jun menggunakan baju koko putih dan peci hitam, sedangkan Dalimah mengenakan kebaya brukat warna hijau berkain coklat lurik-lurik, pasangan yang serasi.

“Dua ekor ayam putih, bawaan Mak Eja. Satu ekor ayam abang, bawaan Kak Daud, dan seekor bebek beserta gula 3 kilogram bawaan Mang Dulah,” Dalimah menyebutkan sembari menyalami para tamu. Jun dengan sangat hati-hati mencatat bawaan para tamu.

“Mengapa harus dicatat, Limah?’’ bisikku pada Limah, yang duduk di sampingku.

“Ini namanya nyumbang . Biar tidak lupa, kalau para tamu ini sewaktu-waktu mengadakan acara selamatan, kita dapat melihat bawaannya  dahulu di buku catatan ini. Kita juga harus nyumbang dengan membawa bawaan yang sama dengan yang dibawanya pada acara kita,”

“Kalau kita lupa bawaannya dahulu, bagaimana?”

“Kita akan terutang pada mereka, malu nian kita nanti.”

“O, jadi bawaan para tamu ini nantinya harus dibayar sang punya hajat, begitu?” aku mengangguk-angguk.

“He..eh., itu ada tamu lagi, Bik Sum, bawa ayam abang dua, Kak,” bisik Dalimah pada Jun. Aku menoleh mencari tamu yang dimaksud, benar Bik Sum sudah menuju ke meja Jun dan Limah.

Semua bawaan para tamu segera disambut panitia dikumpulkan dan diserahkan pada tuan rumah. Ternak bawaan para tamu dipotong dan dimasak baik untuk hidangan pada hari bemasak, maupun acara besok seari.

Di belakang tempat aku dan Limah duduk beberapa meter, di bawah pohon rambutan halaman belakang para bapak berkumpul menyembelih ayam atau bebek. Aku menyaksikan darah segar mengucur dari leher ayam atau bebek yang disembelih menggunakan lading yang berkilat tajam sekali. Gelepar-gelepar ayam dan bebek yang disembelih menyebabkan cipratan-cipratan darah di mana-mana.

Satu per satu tamu datang, ada yang mengantarkan bawaan saja, lalu langsung pulang. Yuk Zubaidah bersama anaknya, Rusmah, tetangga di sebelah posko kami, datang mengantarkan bawaannya lalu langsung pulang.

“Aku, ada gawe, nak ngantar bawaan untuk misanku di dusun sebelah ilir, jadi aku nak cepat, Limah, maaf nian, yo.” Yuk Zubaidah menyerahkan seekor ayam abang  dan beberapa butir kelapa pada Dalimah.

“Ciciplah dulu, Yuk, hidangan itu. Rusmah, ambil lepat ketan itu, ya.” Olok Dalimah pada gadis cilik itu, sambil menunjuk meja panjang berisi hidangan. Gadis cilik itu tampak malu-malu bersembunyi di balik punggung emaknya.

“Baiklah. Rus, ambillah sepotong ketan itu, terus kita pulang,” Yuk Zubaidah menyuruh anaknya, dengan malu-malu Rusmah melangkah ke meja panjang mencomot sepotong lepat ketan.

 

Semakin siang, semakin ramailah para undangan terutama bapak-bapak dan ibu-ibu yang datang pada hari bemasak ini. Ibu-ibu berkumpul mengiris sayur, kacang buncis, memarut kelapa, di tempat lapang yang telah disediakan sang punya hajat. Ada pula yang berkumpul  di dekat penyembelihan ternak, untuk dibersihkan dan dipotong-potong. Penduduk kampung bergembira ria, tampak canda para ibu diiringi gerai tawa di antara mereka. Tak kalah sibuk, bapak- bapak turut mengatur bawaan para tamu dan mengurus hewan-hewan ternak.  Sementara itu sejumlah gadis dusun membersihkan alat-alat makan, piring, sendok, dan gelas yang akan dipakai besok. Piring dan sendok dibungkus dengan sehelai tisu. Semua pekerjaan berat untuk acara raje seari besok harus selesai hari ini.

Menjelang tengah hari, para undangan diajak tuan rumah makan siang. Makan siang tidak terlalu mewah, biasanya tuan rumah menyajikan lauk pindang ayam yang dimasak para ibu tadi. Lauk pindang ini merupakan daging bagian kepala, ceker, leher, kepak ayam atau bebek. Aroma kuah pindang sangat menggoda dengan rasa pedas asamnya. Lalap-lalapan pun disediakan untuk makan siang ini, biasanya sambal pelengkapnya berupa sambal nanas. Semua undangan termasuk keluarga di rumah yang dekat diajak untuk makan bersama siang itu.

Aku merasa tidak asing lagi dengan persiapan pesta raje seari ini, sebab sebelumnya kami juga pernah datang pada hari bemasak pernikahan, Fatma dan Aziz, dua pekan lalu. Tidak jauh berbeda, hanya saja pernikahan Fatma dan Aziz dulu lebih sederhana. Tidak ada panggung untuk sang raje seari,  tarup hanya berupa terpal plastik biru, yang dipasang di depan halaman rumahnya yang sempit. Maklumlah kedua calon mempelai berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun, kegembiraan dan kesibukan warga kampung tetap sama, tidak ada bedanya dengan hari ini.

Setelah makan siang, silih berganti para undangan bemasak datang, ada pula yang permisi pulang, ada pula yang datang menggantikan tugasnya. Bemasak merupakan hari yang paling sibuk, acara bemasak ini diatur seorang  panggung masak, yakni orang yang bertanggung jawab atas kelengkapan masakan untuk acara besok. Kebetulan sekali, panggung masaknya dipimpin oleh Bik Pat, adik sepupu Wak Not. Bik Pat terkenal pandai memasak, dan sering menjadi panggung masak. Racikan bumbu pindang, malbi atau sambalnya dijamin sedap, aroma masakannya sangat menggoda. Tentu saja seorang panggung masak dibantu oleh seluruh penduduk kampung untuk bemasak, jadi pekerjaan akan terasa ringan.

Sementara itu, para bujang ada yang menghias panggung, membuat dekorasi dari daun janur, dan dari kertas warna- warni. Gadis-gadis menyiapkan rampel dari kain panjang untuk meja makan besok.

Menjelang petang, biasanya tak nampak lagi para tamu bemasak yang membawa bawaannya. Kesibukan terlihat di tempat masak. Tungku-tungku api masakan lauk tetap menyala. Ayam goreng sudah hampir kelar. Begitu pula rendang ayam dan malbi  sudah menebar aroma sedap. Aku, Rosma, dan Dalimah pun sudah masuk istirahat di rumah. Sang calon pengantin laki-laki pun telah balik dulu ke rumahnya. Buku catatan bawaan para tamu tak lupa disimpan Dalimah. Dari buku catatan itu kuketahui jumlah bawaan para tamu bemasak tadi, 412 ekor ayam abang dan putih, 45 kilogram gula pasir, beras dua karung, kelapa 130 butir, dan masih banyak lagi rincian bawaan yang ditulis Jun dan Limah. Hemm… lumayan juga.   Meskipun tugasku tidak begitu berat, penat juga kurasakan sekujur tubuhku.

Ba’dah isya’, kami sepakat untuk tandang ke rumah Dalimah. Maklumlah Dalimah sudah kami anggap saudara sendiri. Dalimah harus bersiap-siap untuk acara besok. Inai sudah dipasang, mandi-mandi betangas sudah sore tadi, baju pengantin telah disiapkan. Sementara Jun, pun bersiap-siap di rumahnya, untuk besok.

Malam ini masih banyak yang harus dikerjakan. Meskipun tidak begitu berat, kami hanya menyiapkan rampel dan piring-piring makan untuk besok. Malam ini, biasanya bujang-bujang begadang menunggu panggung dan tarup, dengan ditemani penganan kecil, pempek gendum dan secangkir kopi hangat, sedangkan kami para perempuan diantar pulang oleh pemuda kampung menjelang tengah malam.

 

Pesta raje seari telah tiba. Sejak sebelum subuh pasti Bik Yam dan keluarganya telah sibuk bersiap-siap menerima tamu besan dan undangan. Kami pun sudah bersiap untuk memastikan persiapan sang pengantin wanita.

Akad nikah dilangsungkan pada pukul 8.00, pengantin laki-laki akan diarak datang menuju tempat tinggal pengantin wanita. Tabuh-tabuhan rebana dan arak-arakan bertalu-talu terdengar mengiringi datangnya mempelai laki-laki. Sejumlah lelaki berumur berjingkrak-jingkrak menari rodhat sambil menyenandungkan shalawat nabi mengiringi tabuhan tersebut. Di belakang barisan laki-laki itu berlari-lari kecil sepasang kuda-kudaan yang dimainkan oleh dua orang laki-laki. Kuda-kuda itu dihiasi dengan pakaian hitam dan merah, dipimpin oleh seorang pawang, mirip kuda kepang.

Penduduk berkumpul dan menyaksikan pertunjukkan itu di tepi-tepi jalan sang calon pengantin. Alunan rebana dan shalawat nabi menghanyutkan para penonton. Ramai sekali, sebuah tontonan yang mengasyikan bagi mereka dan aku juga tentunya. Apalagi acara seperti ini sangat langka kutemui di kotaku. Mempelai laki-laki memakai pakaian adat daerah, kain songket yang berwarnah merah keemasan melilit pinggang, baju tanpa lengan yang juga berwarna merah keemasan, berkilau-kilau di terpa cahaya matahari pagi. Seorang pengawalnya membawa payung kerajaan berwarna keemasan, rumbai-rumbainya menari-nari karena terpaan angin sepoi. Senyum bahagia terpancar di wajah Jun.

Kekagumanku makin terasa, ketika sang pengantin laki-laki tiba di rumah mempelai wanita. Pantun-pantun daerah dilantunkan oleh perwakilan keluarga mempelai laki-laki dan disambut oleh keluarga pihak perempuan. Barulah mempelai laki-laki diterima masuk ke rumah. Setelah itu proses ijab kabul berlangsung, aman dan lancar. Haru biru terasa sekali di ruang itu, di sudut ruang kulihat Bik Yam meneteskan air mata, dan para undangan lain pun tak kuasa menahan  rasa haru. Aku dan Rosma pun, diam-diam mengusap mata menyaksikan prosesi pernikahan itu.

Masih kuingat, bagaimana sedihnya kakakku, Arifin, yang tak mampu menikahi Yuk Tika, kekasihnya, dengan segera karena belum mempunyai uang yang cukup untuk biaya pernikahan.

“Sudahlah, Fin. Kalau kau dak punya duit, jangan dulu lah kau lamar Tika, tidak sedikit duitnya itu,” Pak Arsyad, orang tua Yuk Tika memutuskan demikian.

“Tapi Pak, pernikahan kami bisa dilangsungkan sederhana saja”

“Mana ada yang sederhana dan murah  di zaman sekarang ini, semuanya harus dibeli, sudahlah lebih baik kau kumpulkan duit atau selesaikan sampai di sini saja!”

“Tapi, Pak…!”

“Tapi apa lagi? Mau makan apa nanti, anak istrimu? Aku tak mau terlilit utang hanya karena menikahkan anakku!” wajah Pak Arsyad memerah. Kak Arifin akhirnya terdiam dan mengalah. Sakit hati dan malu nian, perasaan Kak Arifin saat itu.

Pernikahan sangatlah mahal di kotaku. Semua biaya pernikahan dan pesta ditanggung mutlak oleh si empunya hajat. Tak ada gotong royong dan kebersamaan di kotaku seperti yang kutemui di dusun kecil ini.

Kini Kak Arifin sering mengurung diri di kamar, menyusul surat undangan merah jambu yang dikirim Yuk Tika melalui pos. Yuk Tika memutuskan menikah dengan laki-laki lain yang lebih mapan dari keluarga kaya.

“Ayo, Hasti. Kita menuju ke tarup  sana,” colekan tangan Rosma di lenganku membuyarkan lamunanku. Segera kuseret langkahku menyusul Rosma menuju tarup. Ahh… andai saja di kotaku masih ada pesta raje seari!(MM)

 

 

Daftar istilah

Abang :  merah

Ayuk                           :  kakak perempuan

Bemasak                      :  hari memasak lauk pauk sebelum pesta

Bawaan                       :  bahan yang dibawa para undangan

Bujang gadis               :  pemuda-pemudio

Gawe                           :  pekerjaan

Kakak                          : kakak laki-laki

Kalangan                     :  hari pasar dalam sepekan

Lading                         : pisau

Model                          :  penganan dari pempek ikan  dan berkuah seperti sup.

Ngukus                        : hari membuat ketan kukus sebelum pesta

Pempek gendum         : pempek yang terbuat dari tepung terigu

Pindang ayam             : masakan khas daerah Ogan Ilir Sumatera Selatan

Raje seari                     : raja sehari (pengantin)

Rodhat                        : tarian seperti pencak silat diiringi tabuhan rebana

Samballingkung          : sambal yang terbuat dari kelapa goreng dan daging

Tikar purun                  :  tikar yang terbuat dari daun puru

 

PESTA RAJE SEARI

Oleh: Marmiyanah

Sabtu pagi, Bik Yam telah menyiapkan suguhan di bawah teratak rumahnya. Berbagai penganan, kue-kue tradisional, ciri khas Dusun Pegagan, telah disajikan di atas meja panjang untuk disuguhkan bagi para tetangga dan tamu yang datang. Tampak dalam sebuah pinggan besar kue lepat ketan, samballingkung, dan kerupuk. Tidak lupa pula dua cerek besar berisi masing-masing kopi hangat dan teh manis turut melengkapi suguhan pagi ini. Sisa-sisa hujan semalam masih membekas di halaman rumah, agak becek, dengan genangan air kecoklatan di tanah-tanah berlubang. Beginilah keadaan dusun yang terletak di tepi aliran Sungai Ogan bila musim hujan mulai datang. Air Sungai Ogan  pun turut meluap, mengalir ke muaranya, Sungai Musi.  Biasanya, disusul dengan seluang mudik, musim ikan seluang. Hal ini pertanda rezeki bagi para penduduk, ya mereka dapat menangkul ikan seluang dengan gampang.

Satu per satu para tamu dan tetangga berdatangan.  Mereka sengaja datang dan diundang pada hari Sabtu ini oleh sang punya hajat untuk diminta tenaganya  bemasak untuk acara selamatan pernikahan, adik Bik Yam, Dalimah dengan Junaidi, pemuda sedusunnya, serta selamatan sunatan anak Bik Yam, Hamid, esok.

Dalimah, anak bungsu dari tujuh bersaudara. Sejak  es de, Dalimah telah ditinggal mati oleh emak dan bapaknya. Tinggallah Dalimah dengan Bik Yam, Ayuk perempuan tertuanya. Sementara saudara-saudara Dalimah yang lain, yang juga adik Bik Yam, ada yang tinggal di lain dusun. Ada pula merantau ke kota, dan ada pula dua orang adik laki-lakinya, Mang Zul dan Mang Rafik tinggal di Dusun Pegagan, tetapi kehidupan mereka sangat miskin. Mereka hanyalah petani penggarap sawah yang disewa dari tuan sawah. Tentu saja hasilnya, hanya cukup untuk keluarga mereka saja.

Lain halnya dengan Bik Yam, meskipun tidak hidup mewah, suami Bik Yam, Mang Tolib, seorang pedagang yang cukup berhasil dan mempunyai sawah yang luas. Mang Tolib membuka toko kelontong dan warung model di pasar kecamatan. Aku dan Rosma pun pernah diajak Mang Tolib untuk mampir makan model di warungnya ketika kami belanja keperluan dapur. Kami tak mampu menolak ajakannya, kami pun mencoba kelezatan model di warung Mang Tolib. Pantas saja, pengunjungnya banyak, modelnya lezat dan pemiliknya pun ramah.

Esok acara akan dimulai, segala persiapan dilakukan pada hari ini. Semua tetangga dan warga sekitar tampak gembira, menyambut keramaian di dusun ini.

Aku pun turut diundang hari ini. Dengan senang hati aku dan teman-teman kelompok Kuliah Kerja Nyata datang ke rumah Bik Yam.

“Cihuii…bakal makan nasi pindang lagi kita, hmm sedeaaap,” seru Rahmat temanku yang gembul, sambil menirukan logat penduduk dusun.

“Mat, kau harus memberi lauk lebih banyak, ya!” tegur Amin, ketua kelompok kami. Yang ditegur hanya cengar cengir saja, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Biar bagaimana pun kami turut menghargai sikap penduduk dusun yang sangat mengharapkan kami, mahasiswa Ka Ka En, untuk berpartisipasi dalam acara ini. Ada kebanggaan tersendiri dapat berpartisipasi dengan penduduk desa ini.

Lagi pula kedua calon pengantin ini cukup akrab dengan kami, terutama Dalimah yang selalu bertandang ke posko kami mengantarkan penganan buatannya kepada  kami hampir setiap hari.

“Selamat bergabung dengan penduduk dusun ini kami ucapkan kepada adik-adik Kakaen dan Ayuk en” begitulah ucapan penduduk ini kepada kami, kakaen untuk mahasiswa dan ayuk en untuk mahasiswi ketika kami kali pertama tiba di dusun ini. Kami cuma tersenyum geli.

Rencana pernikahan Dalimah dan Jun ini, sebenarnya sudah lama terdengar oleh penduduk dusun. Terutama pada hari kalangan, Selasa dan Kamis, berita ini dengan mudah tersiar, dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, di dusun ini jarang sekali membuat surat undangan untuk warganya, cukup secara lisan disampaikan oleh seorang utusan, wakil sang empunya hajat. Surat undangan dibuat biasanya hanya untuk tamu jauh, di lain dusun. Undangan untuk kami pun disampaikan secara lisan oleh Mang Kosim, tetangga Bik Yam.

“Kakaen dan Ayuk en, aku  ini utusan dari keluarga Bik Yam, katanya seluruh Kakaen dan Ayuk en jangan dak datang pada hari ngenjuk minum malam ini. Hari bemasak dan pesta, Sabtu dan Ahad dua pekan nanti, yo,” demikian pesan yang disampaikan Mang Kosim di posko kami petang itu.

Malam ngenjuk minum, yaitu membentuk panitia pernikahan Limah dan Jun, serta selamatan sunatan Hamid, tak lupa kami pun datang. Udin, sang ketua pemuda dusun ini bersama  bujang gadis dusun menjemput kami, terutama  kami yang perempuan. Aku dan teman KKN-ku Rosma, dengan senang hati mengikuti bujang gadis itu ke tempat kenduri. Malam itu, bulan purnama tampak merona, lampu listrik dari rumah-rumah penduduk cukup menjadi penunjuk jalan. Aku, Rosma, dan gadis-gadis dusun berjalan mengiringi bujang-bujang dusun di jalan setapak kampung, yang di sisi-sisinya ditumbuhi rumput dan semak. Kami berjalan dengan hati-hati, maklumlah jalan agak licin bekas hujan sore tadi.

“Din, jangan cepat-cepat jalannya, kasihan gadis-gadis di belakang, nih!” teriak salah seorang pemuda di belakang kami, sembari menerangi jalan dengan lampu petromaks yang dipegangnya. Pemuda di dusun ini sengaja membawa lampu petromaks sebagai penerang jalan tampaknya hal itu sudah membudaya, meskipun tenaga listrik sudah masuk dusun.

“Ya, hati-hati, jalan licin!” teriak Udin beberapa meter di depan kami.

Tak lama kemudian sampailah kami di rumah Bik Yam. Para tamu undangan sudah ramai, terutama bapak-bapak di ruang tengah sudah duduk-duduk di lantai rumah beralas tikar purun, sedangkan kaum perempuan duduk di ruang belakang dekat dapur. Aku, Rosma, dan beberapa gadis dusun menyiapkan hidangan ringan burgo di pinggan-pinggan kecil di dapur, sedangkan sebagian bujang dusun duduk di kursi bambu yang disediakan di halaman rumah .

Malam itu pula akan disusun rencana acara, tuan rumah meminta tolong kepada semua penduduk  dusun untuk menyukseskan hajatan ini. Berdasarkan sepakat para undangan panitia tersebut, acara akan berlangsung pada hari Ahad dua minggu yang akan datang. Jumat dan Sabtunya sebelumnya merupakan acara ngukus dan bemasak. Aku dan Rosma ditunjuk menjadi penerima tamu  dan pendamping calon pengantin, baik pada hari Sabtu maupun Ahad.

Jumat kemarin, sengaja aku menjenguk Limah sekedar ingin tahu apa yang sedang disiapkannya. Di luar dan dalam rumah Bik Yam sudah banyak kegiatan dilakukan para tamu, terutama tetangga dekat.  Hari itu mereka ngukus, yakni membuat penganan dari ketan  dan kue-kue tradisional untuk sarapan pagi bemasak Sabtu. Sejumlah pemuda dusun menyiapkan kayu bakar, memasak air minum pada dandang besar, dan memasang tarup di depan rumah . Tampak asap di mana-mana mengepul ke udara dari api kayu bakar di samping rumah.

Para ibu menyiapkan bumbu-bumbu untuk bemasak esoknya, mengupas kelapa, mengupas bawang,  mengukus ketan, dan membuat   sambalingkung, dan lain-lain. Aku dan Rosma turut pula berkumpul mengupas bawang  merah dan bawang putih bersama para ibu. Duduk di sampingku, Wak Not, wanita paruh baya itu mengupas bawang merah sambil mulutnya mengunyah-ngunyah sirih. Gigi dan bibirnya berwarna hitam kemerah-merahan karena air sirih.

“Nak berdua, kalau ngupas bawang, di ujung lading ditusukkan bawang abang, supaya mata kita tidak pedih,” Wak Not menunjukkan ujung ladingnya yang telah ditusuk dengan sebutir bawang merah. Pantas saja, semua ibu-ibu ini menusukkan sebutir bawang merah di ujung pisaunya.

“Begini, Wak?” tanya Rosma . Wak Not mengangguk-angguk. Aku dan Rosma pun mengikuti  saran Wak Not tersebut. Entah kebetulan saja entah tidak, benar saja mataku tidak perih oleh bawang merah itu.

 

Aku sengaja menuju kamar yang disiapkan untuk raje seari, sang pengantin. Hiasan kamar sebagian hampir selesai, kelambu berwarna merah muda senada dengan seprai ranjang yang juga berwarna merah muda di tengah-tengah kamar yang berukuran 3 x 3 meter itu. Di dinding kamar ditempel bunga-bunga plastik yang di tengahnya tergantung bingkai foto calon pengantin. Harum tercium olehku dari kuntum bunga melati yang direndam dalam sebuah mangkuk kecil terletak di sudut kamar ini.

“Limah, inaimu sudah kau siapkan belum, kapan akan kau pakai?” tanyaku sambil memandang  kuku kaki dan tangan Limah.

“Ini, Yuk, daunnya belum ditumbuk. Aku baru akan menyuruh Hasnah menumbuknya.”

“Kalau begitu, aku saja yang menumbuknya, Hasnah lagi sibuk di dapur. Apa saja yang diperlukan, Lim?’

“Daun inai itu ditumbuk di lumpang batu, lalu dicampur dengan beberapa butir nasi, dan air asam jawa,”

“Itu saja kan, gampang,”

“Oh, ya jangan lupa diberi seekor semut merah,”

“Apa? Semut merah, serius nih?” aku kaget.

“Iya, kata orang tua di sini, semut merah cukup seekor saja, supaya inainya lebih merah, Yuk,”

“Oooh…,” aku mengangguk-angguk sambil tertawa geli.

Singkat cerita, segala persyaratan perinaian itu aku penuhi termasuk mengorbankan seekor semut merah, yang sengaja kucari di bawah pohon rambutan tadi. Semut merah itu kutumbuk dengan anak batu lumpang, meskipun aku kasihan dengan nasib naas sang semut. Kuku kaki dan tangan Limah langsung kutempel, beserta telapak tangan dan sisi telapak kaki kiri dan kanannya.

Sabtu bemasak ini, penduduk dusun lebih ramai datang ke rumah Bik Yam. Aku pun hari ini dengan setia mendampingi Limah dan Jun, menerima tamu.

“Jun, Limah, itu ada tamu yang datang, cepat dicatat bawaannya,” ujarku pada kedua calon pengantin. Jun dan Limah yang sedari tadi telah duduk di muka pintu tarup dengan sigap mencatat bawaan para tamu. Jun mencatat di buku tulis dan Limah menyebutkan. Kedua calon pengantin ini tampak gagah dan cantik. Jun menggunakan baju koko putih dan peci hitam, sedangkan Dalimah mengenakan kebaya brukat warna hijau berkain coklat lurik-lurik, pasangan yang serasi.

“Dua ekor ayam putih, bawaan Mak Eja. Satu ekor ayam abang, bawaan Kak Daud, dan seekor bebek beserta gula 3 kilogram bawaan Mang Dulah,” Dalimah menyebutkan sembari menyalami para tamu. Jun dengan sangat hati-hati mencatat bawaan para tamu.

“Mengapa harus dicatat, Limah?’’ bisikku pada Limah, yang duduk di sampingku.

“Ini namanya nyumbang . Biar tidak lupa, kalau para tamu ini sewaktu-waktu mengadakan acara selamatan, kita dapat melihat bawaannya  dahulu di buku catatan ini. Kita juga harus nyumbang dengan membawa bawaan yang sama dengan yang dibawanya pada acara kita,”

“Kalau kita lupa bawaannya dahulu, bagaimana?”

“Kita akan terutang pada mereka, malu nian kita nanti.”

“O, jadi bawaan para tamu ini nantinya harus dibayar sang punya hajat, begitu?” aku mengangguk-angguk.

“He..eh., itu ada tamu lagi, Bik Sum, bawa ayam abang dua, Kak,” bisik Dalimah pada Jun. Aku menoleh mencari tamu yang dimaksud, benar Bik Sum sudah menuju ke meja Jun dan Limah.

Semua bawaan para tamu segera disambut panitia dikumpulkan dan diserahkan pada tuan rumah. Ternak bawaan para tamu dipotong dan dimasak baik untuk hidangan pada hari bemasak, maupun acara besok seari.

Di belakang tempat aku dan Limah duduk beberapa meter, di bawah pohon rambutan halaman belakang para bapak berkumpul menyembelih ayam atau bebek. Aku menyaksikan darah segar mengucur dari leher ayam atau bebek yang disembelih menggunakan lading yang berkilat tajam sekali. Gelepar-gelepar ayam dan bebek yang disembelih menyebabkan cipratan-cipratan darah di mana-mana.

Satu per satu tamu datang, ada yang mengantarkan bawaan saja, lalu langsung pulang. Yuk Zubaidah bersama anaknya, Rusmah, tetangga di sebelah posko kami, datang mengantarkan bawaannya lalu langsung pulang.

“Aku, ada gawe, nak ngantar bawaan untuk misanku di dusun sebelah ilir, jadi aku nak cepat, Limah, maaf nian, yo.” Yuk Zubaidah menyerahkan seekor ayam abang  dan beberapa butir kelapa pada Dalimah.

“Ciciplah dulu, Yuk, hidangan itu. Rusmah, ambil lepat ketan itu, ya.” Olok Dalimah pada gadis cilik itu, sambil menunjuk meja panjang berisi hidangan. Gadis cilik itu tampak malu-malu bersembunyi di balik punggung emaknya.

“Baiklah. Rus, ambillah sepotong ketan itu, terus kita pulang,” Yuk Zubaidah menyuruh anaknya, dengan malu-malu Rusmah melangkah ke meja panjang mencomot sepotong lepat ketan.

 

Semakin siang, semakin ramailah para undangan terutama bapak-bapak dan ibu-ibu yang datang pada hari bemasak ini. Ibu-ibu berkumpul mengiris sayur, kacang buncis, memarut kelapa, di tempat lapang yang telah disediakan sang punya hajat. Ada pula yang berkumpul  di dekat penyembelihan ternak, untuk dibersihkan dan dipotong-potong. Penduduk kampung bergembira ria, tampak canda para ibu diiringi gerai tawa di antara mereka. Tak kalah sibuk, bapak- bapak turut mengatur bawaan para tamu dan mengurus hewan-hewan ternak.  Sementara itu sejumlah gadis dusun membersihkan alat-alat makan, piring, sendok, dan gelas yang akan dipakai besok. Piring dan sendok dibungkus dengan sehelai tisu. Semua pekerjaan berat untuk acara raje seari besok harus selesai hari ini.

Menjelang tengah hari, para undangan diajak tuan rumah makan siang. Makan siang tidak terlalu mewah, biasanya tuan rumah menyajikan lauk pindang ayam yang dimasak para ibu tadi. Lauk pindang ini merupakan daging bagian kepala, ceker, leher, kepak ayam atau bebek. Aroma kuah pindang sangat menggoda dengan rasa pedas asamnya. Lalap-lalapan pun disediakan untuk makan siang ini, biasanya sambal pelengkapnya berupa sambal nanas. Semua undangan termasuk keluarga di rumah yang dekat diajak untuk makan bersama siang itu.

Aku merasa tidak asing lagi dengan persiapan pesta raje seari ini, sebab sebelumnya kami juga pernah datang pada hari bemasak pernikahan, Fatma dan Aziz, dua pekan lalu. Tidak jauh berbeda, hanya saja pernikahan Fatma dan Aziz dulu lebih sederhana. Tidak ada panggung untuk sang raje seari,  tarup hanya berupa terpal plastik biru, yang dipasang di depan halaman rumahnya yang sempit. Maklumlah kedua calon mempelai berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun, kegembiraan dan kesibukan warga kampung tetap sama, tidak ada bedanya dengan hari ini.

Setelah makan siang, silih berganti para undangan bemasak datang, ada pula yang permisi pulang, ada pula yang datang menggantikan tugasnya. Bemasak merupakan hari yang paling sibuk, acara bemasak ini diatur seorang  panggung masak, yakni orang yang bertanggung jawab atas kelengkapan masakan untuk acara besok. Kebetulan sekali, panggung masaknya dipimpin oleh Bik Pat, adik sepupu Wak Not. Bik Pat terkenal pandai memasak, dan sering menjadi panggung masak. Racikan bumbu pindang, malbi atau sambalnya dijamin sedap, aroma masakannya sangat menggoda. Tentu saja seorang panggung masak dibantu oleh seluruh penduduk kampung untuk bemasak, jadi pekerjaan akan terasa ringan.

Sementara itu, para bujang ada yang menghias panggung, membuat dekorasi dari daun janur, dan dari kertas warna- warni. Gadis-gadis menyiapkan rampel dari kain panjang untuk meja makan besok.

Menjelang petang, biasanya tak nampak lagi para tamu bemasak yang membawa bawaannya. Kesibukan terlihat di tempat masak. Tungku-tungku api masakan lauk tetap menyala. Ayam goreng sudah hampir kelar. Begitu pula rendang ayam dan malbi  sudah menebar aroma sedap. Aku, Rosma, dan Dalimah pun sudah masuk istirahat di rumah. Sang calon pengantin laki-laki pun telah balik dulu ke rumahnya. Buku catatan bawaan para tamu tak lupa disimpan Dalimah. Dari buku catatan itu kuketahui jumlah bawaan para tamu bemasak tadi, 412 ekor ayam abang dan putih, 45 kilogram gula pasir, beras dua karung, kelapa 130 butir, dan masih banyak lagi rincian bawaan yang ditulis Jun dan Limah. Hemm… lumayan juga.   Meskipun tugasku tidak begitu berat, penat juga kurasakan sekujur tubuhku.

Ba’dah isya’, kami sepakat untuk tandang ke rumah Dalimah. Maklumlah Dalimah sudah kami anggap saudara sendiri. Dalimah harus bersiap-siap untuk acara besok. Inai sudah dipasang, mandi-mandi betangas sudah sore tadi, baju pengantin telah disiapkan. Sementara Jun, pun bersiap-siap di rumahnya, untuk besok.

Malam ini masih banyak yang harus dikerjakan. Meskipun tidak begitu berat, kami hanya menyiapkan rampel dan piring-piring makan untuk besok. Malam ini, biasanya bujang-bujang begadang menunggu panggung dan tarup, dengan ditemani penganan kecil, pempek gendum dan secangkir kopi hangat, sedangkan kami para perempuan diantar pulang oleh pemuda kampung menjelang tengah malam.

 

Pesta raje seari telah tiba. Sejak sebelum subuh pasti Bik Yam dan keluarganya telah sibuk bersiap-siap menerima tamu besan dan undangan. Kami pun sudah bersiap untuk memastikan persiapan sang pengantin wanita.

Akad nikah dilangsungkan pada pukul 8.00, pengantin laki-laki akan diarak datang menuju tempat tinggal pengantin wanita. Tabuh-tabuhan rebana dan arak-arakan bertalu-talu terdengar mengiringi datangnya mempelai laki-laki. Sejumlah lelaki berumur berjingkrak-jingkrak menari rodhat sambil menyenandungkan shalawat nabi mengiringi tabuhan tersebut. Di belakang barisan laki-laki itu berlari-lari kecil sepasang kuda-kudaan yang dimainkan oleh dua orang laki-laki. Kuda-kuda itu dihiasi dengan pakaian hitam dan merah, dipimpin oleh seorang pawang, mirip kuda kepang.

Penduduk berkumpul dan menyaksikan pertunjukkan itu di tepi-tepi jalan sang calon pengantin. Alunan rebana dan shalawat nabi menghanyutkan para penonton. Ramai sekali, sebuah tontonan yang mengasyikan bagi mereka dan aku juga tentunya. Apalagi acara seperti ini sangat langka kutemui di kotaku. Mempelai laki-laki memakai pakaian adat daerah, kain songket yang berwarnah merah keemasan melilit pinggang, baju tanpa lengan yang juga berwarna merah keemasan, berkilau-kilau di terpa cahaya matahari pagi. Seorang pengawalnya membawa payung kerajaan berwarna keemasan, rumbai-rumbainya menari-nari karena terpaan angin sepoi. Senyum bahagia terpancar di wajah Jun.

Kekagumanku makin terasa, ketika sang pengantin laki-laki tiba di rumah mempelai wanita. Pantun-pantun daerah dilantunkan oleh perwakilan keluarga mempelai laki-laki dan disambut oleh keluarga pihak perempuan. Barulah mempelai laki-laki diterima masuk ke rumah. Setelah itu proses ijab kabul berlangsung, aman dan lancar. Haru biru terasa sekali di ruang itu, di sudut ruang kulihat Bik Yam meneteskan air mata, dan para undangan lain pun tak kuasa menahan  rasa haru. Aku dan Rosma pun, diam-diam mengusap mata menyaksikan prosesi pernikahan itu.

Masih kuingat, bagaimana sedihnya kakakku, Arifin, yang tak mampu menikahi Yuk Tika, kekasihnya, dengan segera karena belum mempunyai uang yang cukup untuk biaya pernikahan.

“Sudahlah, Fin. Kalau kau dak punya duit, jangan dulu lah kau lamar Tika, tidak sedikit duitnya itu,” Pak Arsyad, orang tua Yuk Tika memutuskan demikian.

“Tapi Pak, pernikahan kami bisa dilangsungkan sederhana saja”

“Mana ada yang sederhana dan murah  di zaman sekarang ini, semuanya harus dibeli, sudahlah lebih baik kau kumpulkan duit atau selesaikan sampai di sini saja!”

“Tapi, Pak…!”

“Tapi apa lagi? Mau makan apa nanti, anak istrimu? Aku tak mau terlilit utang hanya karena menikahkan anakku!” wajah Pak Arsyad memerah. Kak Arifin akhirnya terdiam dan mengalah. Sakit hati dan malu nian, perasaan Kak Arifin saat itu.

Pernikahan sangatlah mahal di kotaku. Semua biaya pernikahan dan pesta ditanggung mutlak oleh si empunya hajat. Tak ada gotong royong dan kebersamaan di kotaku seperti yang kutemui di dusun kecil ini.

Kini Kak Arifin sering mengurung diri di kamar, menyusul surat undangan merah jambu yang dikirim Yuk Tika melalui pos. Yuk Tika memutuskan menikah dengan laki-laki lain yang lebih mapan dari keluarga kaya.

“Ayo, Hasti. Kita menuju ke tarup  sana,” colekan tangan Rosma di lenganku membuyarkan lamunanku. Segera kuseret langkahku menyusul Rosma menuju tarup. Ahh… andai saja di kotaku masih ada pesta raje seari!(MM)

 

 

Daftar istilah

Abang :  merah

Ayuk                           :  kakak perempuan

Bemasak                      :  hari memasak lauk pauk sebelum pesta

Bawaan                       :  bahan yang dibawa para undangan

Bujang gadis               :  pemuda-pemudio

Gawe                           :  pekerjaan

Kakak                          : kakak laki-laki

Kalangan                     :  hari pasar dalam sepekan

Lading                         : pisau

Model                          :  penganan dari pempek ikan  dan berkuah seperti sup.

Ngukus                        : hari membuat ketan kukus sebelum pesta

Pempek gendum         : pempek yang terbuat dari tepung terigu

Pindang ayam             : masakan khas daerah Ogan Ilir Sumatera Selatan

Raje seari                     : raja sehari (pengantin)

Rodhat                        : tarian seperti pencak silat diiringi tabuhan rebana

Samballingkung          : sambal yang terbuat dari kelapa goreng dan daging

Tikar purun                  :  tikar yang terbuat dari daun puru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2016
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

%d blogger menyukai ini: